—-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Anugerah dapetin beasiswa LPDP dan keterima di salah satu kampus terbaik di dunia, Johns Hopkins University, membuat aku takjub sama kebaikan Tuhan untuk hidupku. Memang sih, udah dari jaman SMA doa minta Tuhan untuk kasih kesempatan aku belajar di luar negeri. Coba beasiswa kuliah S1 di Jepang, gak dapet, coba program pertukaran pelajar di UI ke korea selama 6 bulan, dapet, eh malah terikat pelayanan kepengurusan inti kampus, jadi terpaksa dilepas. Terus setelah lulus coba LPDP sekali, gagal. Dan tahun 2022 kemaren coba lagi, puji Tuhan keterima. Pas nyari kampus, pengennya kampus-kampus film Amerika terbaik, dari Columbia University, New York University, The University of California Los Angeles, gak ada yang tembus karena semua durasi studi S2nya melebihi maksimal pendanaan LPDP untuk program S2 (2 tahun). Malah yang keterimanya di kampus yang papa udah kunjungi dan doain secara khusus di tahun 2019, Johns Hopkins University (baca di sini untuk sharing kegagalan-kegagalanku sebelum berhasil S2). Jadi walau ini adalah penantian bertahun-tahun dan akhirnya Tuhan kasih, pas menghidupi jawaban doa itu rasanya masih kayak gak percaya “kok Tuhan baik banget sama aku?”
Jadilah dengan kesadaran penuh aku bertanya sama Tuhan: “Tuhan, aku mau kasih persembahan khusus dong ke Tuhan atas ungkapan syukur karena kebaikan Tuhan. Dan berhubung Tuhan sampaikan aku dititik ini di mana aku punya akses dan skill yang cukup untuk bikin film, persembahannya dalam bentuk film pendek rohani gapapa ya, Tuhan?” Karena hati semakin yakin, aku asumsikan bahwa Tuhan berkenan akan wacana ku itu. Aku tanya lagi sama Tuhan: “Kira-kira kisah rohani yang Tuhan mau untuk aku angkat apa ya?” Lama tuh aku cari idenya untuk persembahan filmku ini. Sampe akhirnya aku kepikiran: “Kenapa gak pergumulan rohaniku ketika Tuhan ambil papa?” Akupun kemudian doain itu: “Tuhan, aku buat film tentang gejolak imanku ketika Tuhan ambil papa, gapapa gak? Aku rasa pergumulanku itu dialami oleh banyak orang di seluruh dunia ini. Mungkin ceritanya gak terlalu wah, tapi setidaknya mungkin suara Tuhan bisa disampaikan dibalik pertanyaan-pertanyaan anak Tuhan akan providensia Allah.” Hatiku semakin yakin selama beberapa bulan menggumulkan. Dan kemudian aku mulai proses pra-produksinya.
Berhubung di saat itu aku udah pernah buat beberapa film, aku berusaha mempersiapkan pembuatan film ini sematang dan sehati-hati mungkin. Dimulai dari merekrut kru, aku bertekad: “aku gak bakal rekrut sembarang orang yang gak mengikut Tuhan dalam hidupnya, aku cuma akan rekrut anak-anak Tuhan.” Akhirnya ketimbang minta temen-temen sekolah, aku mulai dengan rekrut temen gerejaku saat itu sebagai produser. Dia seneng banget pas aku ajakin bikin project ini. Pas aku sampein ide filmnya, dia suka katanya. Kita lanjut bikin perekrutan terbuka secara online untuk krunya, meng-highlight bahwa kami akan prefer kalo pendaftarnya juga adalah pengikut Tuhan. Selang berapa lama proses perekrutan online berjalan, si produser aku yang juga temen gerejaku itu mundur. Itu pukulan pertamaku. Aku kembali seorang diri saat itu mengusahakan project ini.
Beberapa minggu kemudian, ada pendaftar yang mau jadi produser, dia bilang dia pengikut Tuhan, dan udah biasa jadi produser film pendek. Aku bersyukur banget sama Tuhan udah kasih aku produser pengganti yang gak cuma kuat imannya (asumsiku) tapi juga ber-skill. Gak berapa lama kami dapet aktor pemeran utama Gabriel. Dia ganteng, penting untuk seorang aktor, dan dengan menggebu-gebu dia bilang dia percaya Tuhan, dsb. Aku dan produserku ini udah seneng banget dapet dia. Namun seminggu kemudian si aktor ini mundur, dengan alasan yang gak jelas. Ini pukulan ke-2. Tapi yaudah, dalam hati aku mulai belajar, selama project ini aku bawa dalam doa setiap hari, pasti ‘kesialan-kesialan’ ini adalah bagian dari pekerjaan Tuhan. Aku gak patah semangat, aku lanjut cari aktor lain.
Kemudian dalam waktu yang berdekatan kami dapet banyak pendaftar yang setelah kami sortir terdiri dari 1 sinematografer dari New York, bukan anak Tuhan, tapi tertarik kerjain project ini; sound technician yang katanya pengikut Tuhan, production designer yang walau bukan pengikut Tuhan, dia mau kerjain project ini; dan juga seorang production assistant. Lalu dari sisi cast kami dapat banyak aktor yang mendaftar untuk 3 karakter yang ada di film ini, tapi pada saat itu aku udah lock peran pendeta untuk aktor yang aku pernah kerja bareng sebelumnya di tugas sekolahku, aku tau dia orang Kristen yang sangaaaat Kristen, yang gak bisa diem menginjili siapapun yang dia temui, aku rasa peranan ini cocok buat dia. Dan untuk karakter Gabriel, dari sekian banyak pendaftar, kami memilih orang yang kami rasapun bukan anak Tuhan, tapi yah yaudalah, gimanapun juga skill lebih penting dari iman pada saat ini terlebih karena ini untuk pemeran utama. Untuk karakter mamanya Gabriel, ada ibu-ibu dari Alabama yang mau bela-belain ambil peran ini meskipun itu artinya dia harus menempuh jarak yang sangaaatt jauh ke Baltimore untuk shooting walau kami gak bisa kasih bayaran apapun ataupun sediain akomodasi.
Setelah virtual meeting pertama sama kru selesai, sound technician aku yang katanya anak Tuhan itu, mundur. Dia pake alasan ini dan itu, aku udah diambang percaya gak percaya. Feelingku dia gak mau ambil project ini karena sutradaranya pelajar, perempuan, dan orang Asia, alias bukan orang lokal. Belum lagi karena project ini gak bayar dia atau apapun, hanya sediain makanan. Jadi ya aku pasrah aja. Ini pukulan aku yang ke-3.
Karena waktu produksi udah semakin dekat, akhirnya aku terpaksa lebih realistis, aku longgarin prasyarat untuk gabung ke tim produksi ini tanpa harus beriman sama Tuhan Yesus. Jadilah aku mulai hubungin temen-temen kelasku untuk isi peranan kru yang masih kosong. Puji Tuhannya temen-temen aku baik baiiikk banget sama aku, jadi walau mungkin mereka kurang suka jalan ceritanya karena gak sesuai dengan kepercayaan mereka, tapi mereka tetep mau bantuin.
Eh ternyata, deket-deket shooting, produser kedua aku mundur (lagi). HAHAHA. Itu pukulan ke-4. Di situ aku udah kebas rasanya. Udah gak mau berharap sama manusia manapun. Aku biarin dia pergi begitu saja. Aku langsung hubungin temen kuliahku yang kebetulan 6 bulan sebelumnya bantuin jadi produser filmku yang lain. Dia anak Tuhan? Jelas tidak. Tapi aku udah kepepet berhubung tanggal shooting semakin deket.
H-seminggu shooting, production designer aku, orang yang harusnya siapin semua property dan dekorasi untuk shooting mundur, karena katanya mobilnya rusak, jadi gak bisa nyetir ke Baltimore dari Philly. Aku udah nelen ludah aja di situ. Ini pukulan ke-5. Dengan dia mundur, tandanya sekarang aku harus beli pake uangku sendiri, SEMUA property yang ada di film ini. Aku gak punya pilihan lain, tanpa ngomel sama Tuhan, aku langsung pesen semua property dari Amazon dan abisin duit beratus-ratus dolar. Bukan duit Risti pribadi. Duit beasiswa yang harusnya untuk penghidupan pribadi selama studi di sana. Huft. Di saat itu aku mulai bertanya-tanya ke Tuhan: “Tuhan, Tuhan beneran mau gak sih aku shootingin film ini? Kok aku kayak diperhadapkan dengan kegagalan satu dengan yang lain ya tiap beberapa lama? Kok rasanya gak pernah se-drama ini produksi film-filmku sebelumnya? Film-film yang gak memuliakan Tuhan. Kenapa giliran aku mau bikin film yang memuliakan Tuhan, cobaannya banyaaaaak banget? Tuhan mau aku brenti aja? Tuhan gak suka filmnya? Tapi kan dengan konsultasi sama Bang Alex di awal, aku udah make sure bahwa jalan ceritanya sesuai dengan ajaran firman Tuhan, gak ada yang sesat atau gimana hingga Tuhan gak berkenan akan film ini. Kenapa Tuhan mempersulit prosesnya?
Tapi dalam pergumulan aku itu aku belum mau menyerah. Aku tiba-tiba teringat bahwa nabi Nehemia dalam usahanya membangun kembali tembok Yerusalem, suatu tindakan yang mulia, yang jelas sesuai perkenanan Tuhan, gak mulus proses eksekusinya, dia dibully dan dapat banyak ancaman dari orang-orang yang gak mau tembok Yerusalem direstorasi. Hanya karena sesuatu sesuai dengan kehendak Tuhan, gak menjamin Tuhan akan biarin perwujudannya mulus-mulus aja sampe akhir. Justru jangan-jangan karena pada akhirnya pekerjaan Tuhan itu bisa memenangkan banyak jiwa, jangan-jangan tantangan dan rintangan yang aku lewati itu adalah peperangan rohani sama si jahat yang gak mau film ini nanti memenangkan jiwa untuk Tuhan. Jadi aku menguatkan diriku lagi untuk tetep maju.
Seolah belum cukup berat drama untuk perekrutan SDMnya, tiba-tiba Baltimore yang selama ini terkenal panas di tengah winter, dan udah gak pernah bersalju sejak 10 tahun belakangan, tiba-tiba seminggu sebelum shooting turun salju gak berhenti-berhenti, matahari gak keluar. Aku panik. Karena ini bakal nyiksa banget buat smua kru dan aktor aku ketika kami shooting di outdoor. Belum lagi kalo bersalju, berarti air juga akan membeku, padahal kami butuh background danau yang bukan berwujud es batu di scene utama film ini. Aku berdoa bertalu-talu ke Tuhan untuk cairin salju di Baltimore, dan munculin matahari. Tapi sampe h-1 shooting, Baltimore masih diselimuti salju. Aku mau reschedule shootingnya, tapi sinematografer aku yang dari New York maksa untuk tetep shootingin smuanya tanpa reschedule karena dia menolak bolak-balik 2x shooting nungguin danaunya mencair berhubung tiket transportasi New York-Baltimore mahal. Akhirnya kami ganti lokasi, walau danaunya pun tetep beku. Ini pukulan ke-6, yang paling keras menurut aku. Aku hampir nangis saking tertekannya. Tapi kami lanjut shooting besoknya.
![]() |
| (Hari-h shooting Where Is God? Aku lagi ngarahin aktor-aktorku) |
2 hari shooting puji Tuhannya berjalan dengan lancar dan aman. Walau danau masih aja tetep beku.
Drama kembali terjadi sesudah shooting selesai. Alat shooting yang kami pinjem dari sekolah ada yang rusak. Aku kaget. Karena aku gak pegang alat sama sekali sebagai sutradara, tapi semua alat terdaftar di bawah namaku sebagai peminjam dari sekolahku. Jadi pertanggung jawaban dituntut hanya dari aku. Aku tanya sama kru ku yang rusakin siapa, karena sekarang aku diminta ganti sekian ratus dolar sama sekolah, tapi gak ada yang gubris. Gak ada juga yang mau kasih urunan untuk ganti, hahaha. Jadi sambil nangis dan menelan ludah aku transfer duit tabunganku yang semakin menipis itu ke staf yang nagih aku. Ini pukulan ke-7.
Masuk proses pasca produksi, si sinematografer aku itu sejak awal bilang dia mau kerjain bagian warnain (color grading) film ini, Beberapa minggu setelah shooting aku follow up dia lagi apa dia masih mau kerjain color gradingnya apa ngga. Dia bilang iya. Puji Tuhan, aku bersyukur. Berhubung ini adalah tugas akhir aku jadi aku memutuskan untuk edit (rough cut) film ini sendiri dulu sebelum kuoper ke sinematograferku itu. Setelah selesai rough cut dan udah di-ACC dosen pembibing aku, aku hubungin sinematografer aku untuk oper film ini ke dia. Suprise surpriseee!!! Dia bilang dia sibuk, jadi gak bisa kerjain color gradingnya. Aku coba nego ke dia ingetin dia bahwa dia yang inisiatif nawarin untuk kerjain color gradingnya, tapi di-read doang sama dia :) hehe. Ini pukulan ke-8. Aku minta temenku yang jago edit untuk kerjain color gradingnya, dia bilang dia lagi sibuk jadi dia gak punya waktu. Huft. Aku putuskan untuk bawa project ini pulang ke Indonesia dan coba lanjut cari colorist di Indonesia aja.
Di saat yang bersamaan, sebelum pulang ke Indonesia aku sempetin cari music composer untuk film ini. Setelah cari cari cariii, nemu lah anak musik Johns Hopkins. Dia bilang dia pengikut Tuhan juga, dan dia semangat mau ngerjain musik project ini. Puji Tuhan!
Aku pulang ke Indonesia dan lanjut tektokan sama si music composerku untuk kerjain music score film ini. Ternyata sebetulnya dia gak sepaham itu sama dinamika emosinya, jadilah kita selama berbulan-bulan tektokan terus kerjain scene demi scene film ini perlahan-lahan. Walau prosesnya lambaaatt banget, tapi progressnya ada, dan itu yang terpenting buat aku. Sembari di saat yang bersamaan aku cari colorist untuk color grading filmku ini. Aku tanya temen-temenku yang editor profesional dari kantor-kantor lama, pada gak ada yang menyanggupi, either karena sibuk ngerjain pekerjaan utama mereka, ataupun alasan khusus. Aku berdoa terus minta Tuhan kasih colorist yang terbaik untuk film ini supaya film ini beneran bisa diselesaikan, bukan cuma jadi seonggok file draft yang terbengkalai di harddisk aku. Tiba-tiba aku terpikirkan seorang colorist yang aku gak kenal personally, bukan anak Tuhan, karena dia muslim, tapi dia kerjain video lagu papa 2 tahun lalu, dan kerjaannya bagus. Puji Tuhan dia mau bantuin.
Fast forward, si colorist ini kerjaannya BAGUUUUUUUUUUUUUUUSSSS bangettt, sesempurna itu dan attitudenya baik banget walau kami hanya tektokan via WA, gak pernah ketemu langsung, gak pernah telfonan bahkan. Puji Tuhan. Di sisi lain si music composer aku, setelah 10x tektokan kirim draft-revisi-draft-revisi music score sama aku, dia menolak untuk finalisasi keseluruhan music scorenya di akhir. Dia bahkan gak mau aku telfon karena seolah-olah dia udah capek banget terima feedback atau revisi dari aku. Padahal dalam file finalnya dia itu, audio balancingnya atau kesetaraan volume secara keseluruhan masih acak adu. Di bagian yang satu udah pas pelannya, tapi di bagian lain kekencengan sampe nutupin suara dialog. Trus ada banyak suara-suara ‘kotor’ yang bukan bagian dari musik di sana sini belum dibersihin dia, dll. Dalam hatiku aku kesel, kok kerjanya gak tuntas sih? Ini pukulan ke-9. Tapi kembali lagi, karena aku udah males nambah drama aku langsung aja bongkar smua file musiknya sendiri dan kotak katik sendiri, sampe mulus dan layak dimasukin ke filmku.
Dan kini tiba filmnya udah naik ke Youtube. Padahal rencana awal sih aku pengen coba masukin ke film festival internasional dulu kayak film aku yang sebelumnya. Tapi karena aku udah terlalu capek sama drama proses produksi film ini, bakar duit melebihi budget yang aku siapin, dan menurutku banyak kurangnya juga film ini, aku memutuskan untuk langsung aja naikin ke Youtube.
Aku bersyukur akhirnya ‘peperangan’ ini berakhir. Berusaha menyelesaikan suatu karya yang sebetulnya aku harap gak akan terlalu merepotkan aku karena ini sebuah persembahan. Bukan sesuatu yang aku harap akan mendatangkan apa-apa untuk karir aku, tapi justru pada akhirnya paling bikin aku capek hati dan mental. Doa aku cuma 2, pertama, film ini bisa memuliakan nama Tuhan dengan memberitakan suaraNya yang benar dan lembut, dan yang kedua film ini bisa menguatkan anak-anak Tuhan yang sedang lemah atau lelah rohani karena guncangan-guncangan di dunia ini, untuk kembali menatap kasih Tuhan yang utuh dan indah. Di luar itu, aku gak mengharapkan apa-apa. Dan aku percaya, dengan segala kekurangan yang ada di film ini, Tuhan akan mewujudkan 2 tujuan aku itu.
Untuk aku sendiri, aku mendapatkan 2 poin pelajaran atau perenungan dari proses mengerjakan film ini. Yang pertama, etos kerja anak-anak Tuhan justru ironisnya justru lebih rendah dibandingkan orang-orang yang gak percaya sama Tuhan. Sedih. Tapi itu kenyataannya. Liat berapa banyak orang-orang yang mengaku anak Tuhan sepanjang proses persiapan pembuatan film ini tapi ujung-ujungnya antara dia gak bisa komit, atau kerjanya gak maksimal. Tapi kabar baiknya Tuhan kita adalah Tuhan yang inklusif. Dia gak butuh memfilter HANYA anak-anak Tuhan yang mewujudkan misiNya di dunia ini, tapi juga bahkan orang-orang yang gak mengikut Dia. Yang kedua, pekerjaan Tuhan akan selalu dibenci sama dunia ini. Kristus aja yang udah sesempurna itu berkali-kali diusir dari satu daerah ke daerah lainnya, karena dunia benci kebenaranNya. Baik karena memang manusia benci sesuatu yang berbau kebenaran firman Tuhan, ataupun karena si iblis yang berusaha menghancurkan pekerjaan-pekerjaan Tuhan dengan cara apapun. Pada akhirnya mengerjakan pekerjaan Tuhan akan JAUH lebih sulit dibandingkan mengerjakan sesuatu yang bertentangan dengan firman Tuhan, karena yang bertentangan dengan firman Tuhan sangat disukai dunia ini. Tapi bukan berarti kita menyerah dan memilih untuk mengabaikan pekerjaan Tuhan. Karena orientasi kita bukan materi, atau pamor, atau pujian, tapi bagaimana lewat karya dan kerja kita kasih dan kebenaran Tuhan semakin dinyatakan di dunia ini.

Comments
Post a Comment